Data yang Berkualitas, Kompas Pembangunan Pertanian
Maros, (20/10) – Di balik setiap kebijakan pangan ada angka: berapa ton yang dipanen, berapa hektare yang ditanam, dan berapa ton yang masih harus didatangkan dari luar negeri. Hari Statistik Dunia menjadi momen untuk melihat betapa pentingnya angka-angka itu. Majelis Umum PBB menetapkan 20 Oktober 2010 sebagai Hari Statistik Dunia pertama, lalu pada 2015 memutuskan peringatannya berlangsung setiap lima tahun. Peringatan keempat jatuh pada 20 Oktober 2025. Tema 2025, “Driving change with quality statistics and data for everyone”, menekankan peran data yang berkualitas, inklusif, dan mudah diakses dalam keputusan berbasis bukti. Tahun 2026 memang bukan tahun peringatan resmi. Namun semangatnya tetap relevan, terutama bagi pertanian.
Angka produksi jagung nasional tidak muncul begitu saja. Sejak 2020, BPS menghitung luas panen jagung dengan metode Kerangka Sampel Area (KSA), sedangkan produktivitas diperoleh dari survei ubinan pada plot 2,5 m × 2,5 m, lalu dikonversi menjadi jagung pipilan kering. Angka itulah yang menjadi dasar menentukan alokasi benih, rencana impor, dan target produksi.
Potret Jagung Lima Tahun Terakhir
Produksi dan luas panen (jagung pipilan kering kadar air 14 persen):
- 2021: produksi 13,41 juta ton.
- 2022: produksi 16,53 juta ton. Luas panen 2,76 juta hektare.
- 2023: produksi 14,77 juta ton. Luas panen sekitar 2,49 juta hektare, turun 10,03 persen dibanding 2022. Produksi turun, salah satunya karena kekeringan akibat El Nino yang mengganggu jadwal tanam.
- 2024: produksi 15,14 juta ton. Luas panen 2,55 juta hektare.
- 2025: produksi 16,16 juta ton, naik 1,02 juta ton atau 6,74 persen. Luas panen 2,71 juta hektare, naik 6,35 persen.
Produktivitas, jika dihitung dari produksi dibagi luas panen, bergerak pada kisaran 6 ton per hektare selama 2022–2025. Artinya, kenaikan produksi lebih banyak ditopang perluasan areal. Padahal dalam kondisi optimal potensi hasil jagung dapat mencapai 13,3 ton per hektare. Ruang inovasi varietas dan teknologi budi daya masih lebar.
Ekspor Impor Jagung
Volume impor jagung (segar dan olahan) tercatat 1,21 juta ton pada 2021, 1,31 juta ton pada 2022, 1,35 juta ton pada 2023, lalu melonjak menjadi 2,01 juta ton pada 2024. Ekspornya jauh lebih kecil, yaitu 85,6 ribu ton pada 2021, 237,4 ribu ton pada 2022, 180,3 ribu ton pada 2023, dan 145,9 ribu ton pada 2024. Tingkat swasembada jagung segar tahun 2024 tercatat 89,92 persen, di bawah ambang 90 persen menurut konsep FAO.
Arah berbalik pada 2025. Pemerintah memutuskan tidak mengimpor jagung pakan pada 2025. Pada Januari–Mei 2025, volume impor jagung turun 57,88 persen menjadi 403,1 ribu ton. Ini penting karena sekitar separuh bahan baku pakan ternak adalah jagung. Lumbung jagung yang kuat berarti pakan ayam, telur, dan daging lebih terjamin.
Gandum Hampir Seluruhnya dari Impor
Gandum adalah cerita sebaliknya. Indonesia bergantung 100 persen pada impor untuk kebutuhan gandum.
- 2022: impor 9,45 juta ton, turun 17,6 persen dari tahun sebelumnya.
- 2023: impor 10,87 juta ton.
- 2024: impor 12,15 juta ton, naik 11,7 persen. Australia memasok 3,10 juta ton, disusul Ukraina, Kanada, Argentina, dan Rusia.
- 2025: Januari–Agustus mencapai 7,13 juta ton, turun 18 persen dibanding periode sama 2024.
Gandum belum dibudidayakan dalam skala luas di Indonesia, sehingga impor mencapai sekitar 12 juta ton. Karena itu tidak ada statistik produksi dan luas panen gandum nasional yang sebanding dengan jagung.
Program Pengembangan Jagung dan Gandum
Pemerintah menggerakkan beberapa langkah sekaligus untuk pengembangan jagung.
- Penanaman Serentak Jagung 1 Juta Hektare diresmikan pada Januari 2025 bersama Polri. Realisasi tanam pada 2025 sekitar 650 ribu hektare, sehingga dioptimalkan pada 2026.
- Sasaran 2025 adalah produksi 16,68 juta ton dengan bantuan benih untuk 300.000 hektare. Bantuan benih jagung 2025–2026 mencapai 1,22 juta hektare secara nasional, dan pemerintah menyiapkan benih jagung gratis untuk hingga 1 juta hektare pada 2026.
- Target produksi jagung 2026 adalah 18 juta ton.
- Dukungan mekanisasi juga bergerak, misalnya unit corn combine harvester untuk gapoktan menjelang panen raya di Tuban.
- Dari sisi inovasi, BRMP meluncurkan delapan varietas unggul baru, termasuk jagung hibrida, pada Agustus 2025.
Langkah pengembangan gandum masih berupa riset dan perakitan teknologi.
- BRMP merakit dua varietas gandum, Guri 7 Agritan dan Guri 8 Agritan, untuk menekan impor.
- BRMP Serealia menggelar bimbingan teknis budi daya gandum tropis bagi petugas dan penyuluh di sentra pengembangan Jawa Timur, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Selatan, untuk mendukung rencana Menteri Pertanian menanam gandum skala luas pada 2026.
- Hasil pemetaan menunjukkan potensi lahan gandum di Riau, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Barat.
Dua hal layak dicatat. Pertama, jagung bukan lagi soal produksi semata, melainkan juga produktivitas dan mutu. Kedua, di gandum, statistik justru memberi pelajaran bahwa mengurangi ketergantungan impor membutuhkan riset, benih unggul, dan waktu. Itulah gunanya data untuk menunjukkan di mana kita sudah kuat dan di mana kita harus berinovasi.
Terima kasih telah membaca artikel kami. Kami ingin mengajak Anda untuk terus menjelajahi dan memperdalam pengetahuan Anda. Temukan berita terbaru dan artikel bermanfaat dengan mengklik tautan berikut "Klik di sini".
Jurnalis: Muchammad Fatchur Rizza.